1984 Karya George Orwell

Sinopsis

Winston Smith, seorang pegawai pemerintah Inggris yang bekerja di Departemen Catatan, pulang dengan pikiran ruwet dari kantornya. Di rumah-susun Victory Mansion tempatnya tinggal, ia memuntahkan keberanian yang telah dikumpulkannya sepanjang pejalanan pulang untuk menulis buku hariannya – sebuah tindakan yang dianggap kejahatan oleh partai berkuasa. Di buku hariannya itu, diselingi jeritan teleskrin yang tak bosan meneriakkan berita terbaru yang itu-itu-saja dan slogan partai, Winston merekam pikirannya. Dari tindakan nekad itulah Winston semakin larut dalam perjuangan-pikirannya, yang menuntunnya pada kisah hidup yang luar-biasa untuk seorang pegawai pemerintah biasa. Kala saat itu adalah 1984.

Inggris di tahun 1984 adalah Inggris yang berhaluan SosIng (Sosialisme Inggris). Bung Besar adalah tokoh mutlak yang selalu mengawasi gerak-gerik masyarakat Inggris lewat aparatus canggih dan mutakhir yang diejawantahkan dalam bentuk teleskrin, mike, dan, yang paling “klenik”, Polisi Pikiran. Inggris di tahun 1984 adalah Inggris yang penuh pengawasan, Inggris yang selalu dipantau, dimata-matai – bahkan jauh sampai ke dalam pikiran masing-masing manusia yang mendiaminya, baik dari kaum elit anggota inti Partai sampai yang terpandir sekalipun. Inggris tahun 1984 adalah Inggris yang mengaku sosialis, dan juga, Inggris yang fasis. Inggris tahun 1984 adalah Inggris yang sedang mengusahakan bahasa resmi baru: Newspeak untuk mengganti versi kunonya, Oldspeak.

Winston tak pernah tahu sistem mistis apa yang memungkinkan Polisi Pikiran mampu mengetahui isi benak masing-masing anggota masyarakat. Yang jelas, ia mengalami sendiri bagaimana rasanya ditangkap oleh Polisi Pikiran. Perjumpaannya dengan Julia, seorang gadis yang merajut kasih dengannya, perkenalannya dengan O’Brien, salah seorang anggota inti partai, dan “keterpukauannya” dengan Goldstein, pengkhianat dan musuh besar partai yang, konon, melakukan makar dengan dukungan ribuan orang, serta “ketakberuntungannya” karena memiliki pikiran kritis terhadap Bung Besar dan segala macam tetek-bengek yang mengelilinginya, adalah unsur-unsur yang menjadikan Winston salah satu buruan Polisi Pikiran.

Ruang penyiksaan adalah tempat otak Winston dicuci. Gelegar-nalar yang dilakukan pihak partai untuk mengembalikan rasa “cinta” Winston pada Bung Besar dan Sosialisme Inggris benar-benar merasuk sampai ke tulang tubuhnya yang jadi belulang-berbalut-kulit karena keras dan kejamnya siksaan Kementrian Cinta Kasih yang menerpanya selama berbulan-bulan.

Namun cuci-otak itu berhasil. Winston kini berjiwa bersih. Pikirannyapun bersih, tak pernah lagi mendua. Inilah yang disebut-sebut kemenangan atas pergulatan. Inilah kemenangan Inggris. Winston kini cinta Bung Besar.
Ulasan

KEKUATAN KETERBALIKAN

PERANG IALAH DAMAI / KEBEBASAN IALAH PERBUDAKAN / KEBODOHAN IALAH KEKUATAN. Paradoks biner seperti inilah yang menciptakan suasana janggal dalam alur sederhana kisah pergulatan hidup Winston Smith di novel 1984.

1984 adalah sebuah novel futuristik yang diterbitkan tujuh bulan sebelum penulisnya, George Orwell, meninggal. Novel ini ditulis Orwell pada 1949. Itu mengapa bangunan alur dan solekan bahasa yang sarat dengan gudang makna dari novel ini sering kali dianggap orang kala itu sebagai sebuah ramalan, yang mendasarkan argumen-argumennya pada pembacaan keadaan sosial, politik, dan ekonomi Eropa tahun 1930-1940an yang luas dan dalam. Namun, ketika tahun 1984 itu sendiri sudah lama lewat, apakah novel ini masih bisa dikatakan sebagai ramalan? Masih penadkah ia kita baca untuk meraba zaman atau, setidaknya, sejarah?

Ada banyak keterbalikan yang merongrong pembaca ketika bersua dengan cerita di novel ini. Keterbalikan itu hadir dalam bentuk slogan dan cara pikir tunggal-mutlak yang mencerminkan fanatisme dan fasisme yang merasuk ke dalam benak anggota masyarakat. Fasisme rekaan negara, yang ditunjukkan lewat perangkat kekuasaan berupa partai dengan segala embel-embel ideologinya, sampai tataran tertentu, sudah berhasil menyetubuhpikir dengan manusia generasi muda, generasi yang jejak-akrabnya dengan sejarah-yang-jujur sengaja dihapus.

Keterbalikan hadir juga dalam bentuk aturan-aturan ketat yang begitu mengikat cara hidup orang. Lewat penggunaan bahasa yang cerdik, aturan-aturan direka sedemikian rupa sehingga tidak mencerminkan sebuah makna pragmatis bahwa aturan bersifat mutlak. Keterbalikan ada dalam purna-aturan: aturan yang mengatur orang agar dapat melibatkan dirinya dalam aturan utama.

Keterbalikan muncul lewat sandiwara. Lewat drama percakapan dan tindakan yang sudah sama-sama diketahui oleh setiap orang bohongnya, namun tetap dilakukan juga. Tetap dilakukan, sampai lambat-laun orang menjadi mekanis dan “berhasil” menarik kebenaran dan keharusbutuhan dari drama apus-apusan itu. Pekan Benci dan Dua Menit Benci adalah contoh sandiwara itu.

KEJAHATAN PIKIRAN

Tokoh Bung Besar adalah figur yang sangat lazim hadir dalam sebuah kondisi totalitarian. Kita dapat ingat tokoh sejenis Stalin, Hitler, Polpot, dan Suharto. Atau, tokoh Bung Besar juga kita saksikan dalam sebuah kondisi demokrasi-semu a la Amerikanya Bush. Tokoh ini dipropagandakan lewat poster, spanduk, teriakan juru kampanye, iklan politik pemerintahan di teve – dan kebanyakan dari mereka tersenyum dalam gambar yang disebarluaskan untuk khalayak.

Dalam 1984 perkakas propaganda sejenis poster dan teleskrin adalah senjata ampuh untuk merasukkan citra Bung Besar ke dalam pikiran masyarakat. Akan tetapi, selain sebagai alat propaganda yang manjur, perkakas ini juga dijadikan alat pengawasan yang secara terang-terangan memang memata-matai penduduk, baik lewat peringatan yang berkesan menakuti-nakuti seperti “Bung Besar Sedang Mengawasi Saudara” atau lewat pemantauan langsung melalui kamera renik yang tersembunyi di balik tiap-tiap teleskrin yang ada di terlalu banyak tempat. Perpaduan antara teknologi piranti canggih dan ideologi usang kedewaan ini benar-benar membuat rakyat Inggris dalam novel 1984 tak berdaya.

Pikir-ganda (double-think) adalah kejahatan pikiran. Lengkap dengan Polisi Pikiran, konsep ini hadir secara hiperbolis namun tetap terjaga kemasukakalannya. Pikiran adalah yang paling sukar dikendalikan oleh diri sendiri. Apalagi, bagi manusia yang banyak referensi, percabangan pikir ialah sesuatu hal yang hampir-hampir mustahil untuk dicegah. Inilah bentuk pemberangusan paling radikal dari Partai berhaluan SosIng di novel 1984. Partai beranggapan bahwa segala tindakan menetas dari eraman pikiran. Ketika pikiran dipangkas dan direka menjadi bentuk tunggal, sesuai dengan haluan nalar kepartaian tentunya, maka tindakan makar atau, bahkan hanya yang sekedar kritis (walaupun nir-keberanian untuk mewujudkan pikiran tersebut) tidak akan pernah mengusik. Orang yang tertangkap Polisi Pikiran karena mendua-pikir, Winston contohnya, akan dicuci otaknya dengan metode penyiksaan yang memakan waktu berbulan-bulan, untuk kemudian, setelah pikirannya “bersih”, ditembak mati.

PENGKHIANATAN (TERHADAP) BAHASA

Satu hal penting lagi yang bertaut erat dengan pikiran adalah bahasa. Partai benar-benar cerdas, sekaligus picik, karena menyadari pentingnya menguasai bahasa untuk menguasai pikiran masyarakat. Sebagai alat utama pengutara nalar, bahasa berwajah ganda: ia dapat menjadi teman yang membebaskan sekaligus lawan yang memenjarakan. Bahasa membebaskan manusia dalam hal bahwa bahasa memungkinkan nalar yang ada di benak manusia “termaterikan” lewat ekspresi bunyi bermakna. Pun begitu, bahasa menjadi sosok yang justru memenjarakan nalar manusia ketika ia dimanipulasi lewat unsur-unsur linguistik-semantiknya. Hal yang kedua inilah yang dilakukan oleh orang-orang Partai. Mereka (lagi-lagi) membelahduakan bahasa Inggris dengan oposisi Wicaralama (Oldspeak) lawan Wicarabaru (Newspeak). Wicaralama adalah bahasa Inggris baku yang dianggap Partai banyak mengandung kosakata usang, tak berguna, taksa, dan punya potensi untuk digunakan sebagai alat makar. Kosakata dalam Wicaralama ini banyak dihilangkan dalam kamus Wicarabaru.

Wicarabaru lebih mementingkan penggunaan kosakata dengan makna semantik, alih-alih yang berpotensi pragmatis. Perampingan kosakata adalah usaha takterhindarkan untuk memuluskan kepentingan ini. Inilah pengkhianatan (terhadap) bahasa! Ketika semantik didewakan, ketaksaan diberangus, kosakata dikurus-keringkan, penggunaan konteks disempitkan, dan ketakberaturan morfologis dibunuh, maka nalar akan mati-lemas. Contoh yang menarik adalah penggunaan kata “bebas” (free). Dalam Wicaralama bahasa Inggris, kata free dikenal dalam kalimat dengan konteks This dog is free from lices dan This community is intellectually free. Yang terjadi dalam Wicarabaru adalah pembunuhan terhadap konteks di kalimat kedua. Kata free hanya dapat digunakan dalam kalimat-kalimat dengan suasana “dangkal” seperti tersua di kalimat pertama. Sementara itu, konteks kata free dalam kalimat kedua dihilangkan karena berpotensi untuk digunakan dalam hal “pembangkangan” terhadap kebijakan partai.

Tindakan meng-kuruskering-kan perbendaharaan lema juga memiliki akibat sangat berbahaya pada keluwesan dan keliaran nalar. Ini kuncinya. Nalar tidak boleh luwes dan liar dalam Inggris di 1984. Mengingat sifat nalar yang berbanding lurus dengan sifat bahasa, maka, dengan menjinakkan bahasa jinak pula nalar penuturnya. Satu lagi pembacaan jenius dari Orwell.

MITOS YANG DIPELIHARA?

Dalam usaha menampilkan suasana pertentangan (keterbalikan), Orwell tetap memakai pola klasik yang lekat dalam nalar paham strukturalisme, khususnya opisisi biner, dalam menokohkan karakter dalam novel 1984. Bung Besar mempunyai musuh besar: Goldstein. Goldstein dihadirkan pun secara tak hadir, persis seperti kehadiran Bung Besar, yang tak pernah nampak dalam cerita. Mereka berdua hanya muncul lewat narasi sepenggal-sepenggal, tanpa pernah mengkasatmatakan diri secara pribadi utuh. Mereka hanya ide, yang saling melengkapi satu sama lain.

Lewat pemabacaan lanjut, kita dapat menarik sebuah kesimpulan sederhana tentang posisi mitos dalam kehidupan politis manusia, tentang pentingnya peran mitos dalam melanggengkan kekuasaan. Amerika takkan mempunyai “alasan” untuk terjun dalam perang Pasifik kalau Pelabuhan Mutiara tidak dibombardir Jepang, Amerika takkan masuk dalam perang dunia pertama kalau publiknya yang pada saat itu anti-perang tidak dicekoki dengan mitos setan pembasmi kemanusiaan yang mengancam hidup umat dunia, Amerika tidak akan punya “alasan” untuk meluluhlantakkan Irak kalau saja tidak ada ide tentang terorisme global, TNI tidak akan dapat “proyek” kalau tidak ada Fretelin di Timor-Timur dan GAM di Nanggroe Aceh Darussalam. Bung Besar tidak akan hidup kalau tidak ada Goldstein.

Inilah pentingnya memelihara mitos. Tindakan-tindakan klasik namun relevan inilah yang membuat 1984 tetap dapat tempat yang layak di hati dan pikiran pembaca meskipun tahun 1984 telah dua puluh empat tahun berlalu. Karena, jangan-jangan, 1984 juga mitos.

Kutipan Berkesan:
PERANG IALAH DAMAI / KEBEBASAN IALAH PERBUDAKAN / KEBODOHAN IALAH KEKUATAN

Yogyakarta, 29 November 2008

(dimuat di mediasastra.com)


One Response to “1984 Karya George Orwell”

  • novel 1984 by george orwell Says:

    [...] for … I’ve always regarded Orwell’s novel as a template and benchmark for what can be achieved …1984 Karya George Orwell | Ginting Munte1984 Karya George Orwell. Sinopsis. Winston Smith, seorang pegawai pemerintah Inggris yang bekerja [...]

Leave a Reply