Aku Tak Bisa Tidur

Aku tak bisa tidur. Begitulah. Tak bisa. Dan hanya begitu saja.

Tidak! Tidak seperti itu. Tak pernah seperti itu. Malam-malam sebelumnya aku tidur tepat waktu dan terpekur nyenyak sekali. Tapi, kenapa malam ini? Sesuatu. Sesuatu pasti terjadi sebagai sesuatu yang punya alasan. Melantur kalau sesuatu terjadi begitu saja. Aku tak pernah percaya. Semuanya. Semua! Ada barisan alasan yang sembunyi di balik tabir panggung tempat sesuatu dilakonkan. Mereka sembunyi bukan untuk sembunyi. Mereka sembunyi untuk mengejek kesadaran orang, untuk ditemukan. Dan tak secuilpun sabar mereka rompal oleh kala. Mereka tetap menunggu, sampai suatu nalar menghampiri dan berteriak, “Ci-luk-ba! Kau kutemukan. Kau kena. Sekarang gantian, kau yang jaga.”


Malam sebelumnya bahkan nyamuk purbapun tak bisa mencelikkan mataku dengan tusukan belalai-lemah-gemulainya yang menyengat itu. Tapi malam ini aku tak bisa tidur. Kau tau mengapa? Kau pernah? Akh, ya. Kau paling tidak pernah sekali-duakali mengalaminya. Matamu terjaga dengan warna kuning kecoklatan terkelir di bolanya, bahkan sampai pada pupil matamu. Ya, bahkan pupil matamu berubah warna. Kau ingin tidur tapi ada saja sesuatu yang mencolekmu. Berulang kali kau sangkal, dan kau yakinkan dirimu agar terlelap segera. Kau mungkin pernah baca cara itu di buku panduan untuk orang susah tidur yang berjudul KIAT-KIAT MENJADI SUKSES DALAM TIDUR. Tapi yang nyata kau dapat adalah kau tidak. Kau tak bisa menyangkalnya. Bahwa kau tidak bisa tidur malam ini. Dan kau benar. Kau memang tak bisa tidur. Sama seperti aku. Kita sama, kawan. Maka marilah berhadap-hadapan. Kita bagi sedikit cerita. Jangan jadikan obrolan kita sebagai salah satu cara untuk terlelap karena mungkin kau berpikir, “Akh! Nanti setelah sepuluh bentar aku mengomel dan meladeni orang kurang waras ini, pastilah kantuk datang sebagai pahlawan yang membaringkanku di ranjang kesayangan. Uh, tidak! Tak harus di ranjang kesayanganku yang empuk itu. Di mana saja boleh. Bahkan di depan orang tak waras inipun jadi.”

Jangan jadikan itu alasan. Walau, biarpun nanti itu yang terjadi – dan, kau tahu?, aku sebenarnya juga mengharapkan hal yang sama – maka beruntunglah kita.

Marilah mendekat. Kuceritakan sedikit tentang kenapa tak aku bisa berpejam-mata. Aku merasa ada sebuah gambar yang ditayang berulang-ulang di kepalaku. Aku seperti menonton film busuk di bioskop tua yang hampir bangkrut, dengan kursinya yang tak empuk lagi lembab karena keringat dan ludah dan airmata dan ketombe dan tungkik dan upil dan taimata, dan tikus berkeliaran bolak-balik di hadapanku, tapi mataku tak terganggu oleh tikus-tikus itu. Tetap saja aku menonton gambar yang sudah berjam-jam diputar. Dan gambar itu hanya memakan waktu tak lewat dari sepuluh gerakan jarum detik jam. Namun, gambar tetap diputar. Selama berjam-jam. Aku ingin keluar karena sebenarnya bosan, atau karena ingin buang hajat. Tapi aku tak bisa. Aku terpaku, terikat erat seperti seorang pesakitan yang sedang menjalani hukuman mati, mampus di kursi listrik. Dan suara-suara dari gambar itu terus menggetarkan gendang telingaku. Kadang kencang kadang juga lembut dan mendayu. Seperti mengejek dan menggumam, “Hey, aku bisa bermain sesukaku di lorong telingamu ini.”

Kau bingung? Maaf, aku sedikit melantur dan bertele-tele. Aku tak bisa langsung berbicara ke titik permasalahan. Tapi, ketahuilah. Aku sedang menuju ke situ: ke titik permasalahan yang menjadi alasan kenapa aku tak bisa tidur malam ini, dan mungkin malam-malam selanjutnya juga. Sedikit pengakuan sebelum kulanjutkan, aku melantur sebenarnya bukan karena sedang sekedar melantur. Aku melantur dan berbelit-belit karena aku mengulur waktu, mencari-cari keberanian untuk berterus-terang padamu. Sangat sulit sekali bagiku untuk jujur dan terbuka dalam waktu sesingkat ini. Dan bukankah kita baru saja berjumpa, kawan? Bahkan aku belum tahu harus dengan nama apa kupanggil kau. Ah, ya! Siapa namamu, kawan? Heh? Kau menggeleng. Baiklah, biar demikian saja. Tak perlu kutahu namamu karena kau juga tak perlu tahu namaku. Yang penting kita di sini saling berbagi cerita tentang kesusahan kita untuk tidur malam ini.

O, ya. Sampai di mana tadi kita? Ya? Ah, kau benar. Tentang mengulur waktu dan keberanian untuk bercerita. Hey! Cerita! Itu dia. Ya, cerita itu. Hahaha… hampir saja aku lupa.

Baik, kumulai saja. Aku punya seorang kekasih. Maaf, tak bisa kusebutkan kelaminnya. Itu sangat pribadi. Dan takkan menjadi masalah lagipula. Kekasihku ini adalah seorang yang sangat lembut. Dia selalu membuatku mabuk dalam setiap pertemuan kami. Betapa aku mengagumi, menyanjungnya. Bahkan liurnya saja sudah cukup membuatku tak haus selama sehari. Agak berlebihan memang. Dan tak ada yang lebih berlebihan tentang aku pada kekasihku ini.

Aku seorang penyendiri, dan sangat suka berteman dengan pikiranku sendiri. Aku sering tersentak menemukan diriku melamun panjang dalam sunyi. Dalam sunyi kutemukan suara-suara yang langka, suara-suara yang bisu ketika sunyi lenyap. Pelarian katamu? Hm… Sebutlah demikian. Kalaulah ini sebuah pelarian, lalu kenapa? Akankah kau beri embel-embel hitam-putih atau baik-buruk pada lema “pelarian”? Akankah kau langsung pukulrata membacaku dan menghakimiku sebagai orang yang lari? Tau kau? Pada kala mutakhir seperti ini, ketika kebisingan sudah mirip sebagai sunyi – aku sedang menambahkan pangkat “terlalu” pada kata kebisingan tadi (bahwa bising yang terlalu mampu membuat kita tak mendengar apa-apa lagi – cobalah kau rasakan dingin yang terlalu, maka kau akan temui panas api di beku itu) – dan suara renik seakan-akan bungkam, mencari sunyi adalah mencari cara merdeka. Sayup sunyi mengizinkanku bercengkrama dengan suara-suara yang jauh lebih kaya jumlahnya. Dan dari sunyilah aku mencoba memaknai dunia. Hei! Dunia! Tapi, bukan berarti aku seorang yang tak tahu dan tak peduli tentang dunia di luarku. Aku menyadari, sedikit-banyak, dunia, yang sudah terlanjur berumur saat aku lahir, membentukku dan orang lain, dan kau tentu saja termasuk di dalamnya, begitu juga kekasihku itu. Banyak kuperhatikan para sarjana baku-pikir-dan-mulut tentang urutan: tentang mana yang lebih dulu, manusia atau dunia. Bagiku, kalaupun mereka bisa menemukan dan kemudian menyepakati suatu jawaban, temuan mereka itu tidak akan dapat berarti banyak. Temuan mereka kuno. Ketinggalan zaman! Karena membahas asal-muasal sesuatu tidak akan pernah melahirkan sebuah titik awal, terutama ketika menerapkan nalar-alasan sebagai landasan pikirnya. Kecuali, kalau mereka sudah mulai malas, dan akhirnya memantapkan bentukan T-U-H-A-N sebagai jawaban atas perbicangan tentang asal-muasal. Bah! Menjadi tidak penting itu semua. Aku lebih tertarik untuk memikirkan hal yang melampaui permasalahan sederhana-tapi-terlihat-rumit itu. Aku lebih suka memikirkan bagaimana manusia terbentuk, terpola segala unsur nalar dan raganya. Katakanlah dunia membentuk manusia. Aku akan mempertanyakan lagi bagaimana manusia bentukan dunia itu membentuk dunia, dan bagaimana dunia bentukan manusia yang dibentuk dunia itu membentuk manusia, dan seterusnya. Ha? Dimana aku memikirkan itu?

Ada pokok cemara di bukit di belakang bangunan sekolah tua tempatku belajar. Di situ aku sering menghabiskan waktu, menatapi sinar matahari yang masuk tanpa ragu dari sedikit lubang-lubang renggang yang terbentuk dari kumpulan daun-daun cemara yang tajam itu. Entah mengapa, menurutku, matahari, setidaknya cahayanya saja, terlihat lebih indah dan berguna ketika ia menghujam tipis-tipis seperti itu. Dan berkelap-kelip terutama saat aku menggeleng sedikit ke kiri atau ke kanan. Di bawah pokok cemara itulah aku memikirkan hal-hal. Apa saja. Apa saja yang menarik untuk dipikirkan, sebelum dibicarakan dengan teman yang kuciptakan sendiri di ruang khayali tempatku bermain. Perang, mal, rok span, sabun mandi, baliho, puisi, politik, film, kartu kredit, zebra-cross, lumut, bunga jepun, televisi, radio, pesawat ulang-alik, plankton, apa saja. Aku memikirkan semuanya dan setengah mati berusaha menghubungkan semuanya. Aku yakin hal-hal itu sebenarnya bergerak pada suatu hentakan ritmis yang, sialnya, hampir-hampir tak sanggup kuraba keliarannya dengan nalarku. Akh! Akhirnya aku tahu mengapa Syiwa bergelar Dewa. Tariannya itu. Ketukannya itu.
***

Mungkin karena terlihat aneh, maka sosokku menarik perhatian kekasihku itu. Dia mendekatiku dan mencoba berbicara padaku. Awalnya memang agak kaku. Tapi, lama-lama, ada juga keasyikan mengobrol dengannya. Dan aku mulai melupakan peristiwa bahwa aku pernah menciptakan tokoh khayali dalam hidupku. Sekarang aku punya teman bicara. Dan aku tersenyum.

Tak berapa lama berselang, aku sudah terbiasa dengan kehadiran kekasihku itu. Aku sadar aku jadi menyayanginya, dan ingin menjalin kasih dengannya. Sebelumnya aku tak punya kata untuk menggambarkan perasaanku ini. Tiga kamus kubuka untuk mencari-cari seperti apa manusia memanggil ciri rasa yang kualami. Dan aku menemukan kata “kasih”, “cinta”, dan, yang menarik, “berahi”. Kata yang terakhir ini kutemukan di kamus yang sudah agak usang. Maksudku, bukan usang karena sampulnya berdebu dan sebagian kertasnya rompal diruyaki rayap. Tapi, usang karena ia memuat perbendaharaan kata-kata yang sudah kuno, dan kebanyakan sudah berubah maknanya.

Lalu kukatakan pada kekasihku itu suatu kesempatan, “Aku berahi padamu.” Dan ia menyunggingkan senyum. Aku anggap itu sebagai sebuah “Ya, aku juga.”

Dan kami menjalin hubungan berahi itu. Tanpa sadar, kami sekaligus memberahikan hubungan itu. Kami bercinta. Di mana saja. Kami jelajahi ruang-ruang yang mungkin menurutmu tak masuk akal untuk dijadikan tempat bersetubuh. Di perpustakaan, di atas pokok nangka, di sudut dapur tak berjendela, di pojokan pasar saat subuh, di dalam pipa-pipa besar yang teronggok menunggu diangkat dan dipasakkan atau ditanam sebagai jalur tali air, di pematang sawah, bahkan di galian kubur yang dipersiapkan sebagai liang lahat jenazah esok harinya. Begitu seringnya kami melakukan. Dan begitu candunya kami dibuat. Aku merasa senang, meski lebih sering kami bersetubuh daripada mengobrol. Mengobrol! Ya, aku sadar aku tak punya teman mengobrol. Dan teman khayaliku sudah kuusir. Sulit mengundangnya datang kembali. Aih! Bisa miskin kata-frasa-klausa-kalimat-wacana aku ini. Sudah punya teman hanya satu, taklah pula sering diajak mengobrol. Kalau nalar bahasaku sudah sempit seperti ini, manalah lagi aku bisa berpikir-cerita tentang rok-span, pesawat tempur, sastra peranakan, perang urat memperebutkan tapal-batas, sampai serat optik keluaran terbaru?
***

Waduh, sudah melantur lagi aku rupanya. Kau belum mengantuk, kawan? Baiklah kubuat kau semakin terjaga dengan cerita perihal persetubuhanku dengan kekasihku itu. Satu hal yang baru akhir-akhir ini kusadari: kekasihku itu tak pernah terlihat bergelora dan berpendar sinar wajahnya ketika kami bercinta. Hanya satu kali, sepanjang yang bisa kuingat, dia tersenyum. Itu dikala kali pertama kami melakukannya. Aku mengakui bahwa kuharapkan sekali ada raut khas, setidaknya kerutan nafsu di kening kekasihku. Tapi, langka sekali. Hampir-hampir tak bisa kuingat kapan terakhir dia melenguh. Lagi-lagi, aku merasa sunyi dalam lenguhanku sendiri. Aku merasa seperti meracap saja. Dan alat untuk meracap memang tak berdaya-cipta tinggi dalam hal ekspresi. Sunyi itu juga yang membuatku bisa mendengar detak hatiku sendiri. Dan detak itu melemah. Aura di kepala dan dada semua terserap, menyumbang chi untuk aura di atas kelamin. Aku lemas. Aku mulai berpikir untuk berpisah sedikit demi sedikit dengan candu berahi ini.
Maka itu, aku mulai lagi melanjutkan hidupku. Mulai lagi duduk santai di bawah naungan pokok cemara rindang dan memikirkan hal-hal. Dalam aku berpikir, jarang sekali raut kekasihku itu terlintas. Aku benar-benar terlindung dari padanya. Aku hanyut dalam pusaran deras alur pikiranku sendiri. Setiap aku selesai berpikir, aku selalu menuliskannya. Meskipun menulis sudah jadi kebiasaanku, tetap saja kadang aku lupa membawa kertas bersamaku, walau pena selalu menggantung di saku baju. Maka itu, sering aku menuliskan apa yang sudah kupikirkan di mana-mana: di celana, di kemeja, di tapak tangan, di kertas koran yang kupungut, di daun nangka, bahkan di tanah (sesekali ketika pena kehabisan tinta). Aku tau aku tak selalu bisa mengingat apa yang baru kupikirkan. Karena otakku serasa melompong sehabis berpikir. Dan catatan-catatan hasil rekaman buah-pikirku itu bertaburan di kamar tidurku. Mungkin suatu waktu akan kukumpulkan dan kutulis ulang. Atau, mungkin juga ada seorang yang akan melakukannya untukku. Siapa tahu ternyata, mungkin nanti setelah ragaku usang dan harus menyerah pada waktu, ada seorang bocah, yang rasa ingin tahunya dahsyat, tak sengaja bertemu salah satu catatan itu entah di mana. Dan keberuntungan memberinya jejak untuk melacak kuburan catatan rekaman pikiranku itu. Ia akan membongkar kuburan itu. Dan memustakakannya.

Akh! Kering tenggorokan ini terasa. Kau bawa minuman, kawan? Boleh kuteguk sedikit? Tidak bawa? Tak apa. Tapi tunggu sebentar. Biar kunyalakan dulu rokok klobotku. Tinggal satu, kawan. Dan aku tak biasa berbagi.

Kulanjutkan lagi. Di sore kemarin itu, aku berjalan-jalan sehabis membatu di bawah pokok cemara di bukit di belakang sekolah. Aku berniat menyinggahi kekasihku, sekaligus menyalaminya sebuah “selamat sore”. Biasanya, sore-sore demikian, kekasihku sering menghabiskan waktu di rumah pohon di hutan kecil yang bertetangga dengan rumahnya. Langkahku langsung kutuju ke sana. Lebar-lebar aku membuat langkah. Tanganku kuselipkan di kantung celana. Agak dingin sore itu. Maka di situlah aku, tak sampai dua puluh langkah dari rumah pohon tempat kekasihku kuyakini sedang berada. Lampu di rumah pohon itu sudah menyala. Remang telah tiba rupanya. Lamat-lamat kudengar suara cekikikan yang langsung kukenali sebagai suara kekasihku itu. Sedang apa dia?, tanyaku dalam hati. Kupanjat satu-satu anak tangga yang tegak lurus mendongak langit itu. Dan ubun-ubunku tiba duluan di ambang pintu. Lalu keningku. Lalu alisku. Lalu mataku. Dan pemandangan yang kulihat sungguhlah luar-binasa. Kekasihku tergelak dengan girangnya. Tubuh telanjangnya basah oleh peluh. Matanya berbinar. Sesekali giginya bergemertak. Alisnya naik turun. Telinga dan lehernya agak memerah. Dan urat lehernya terlihat jelas, seperti dia sedang menahan sesuatu. Aku mengira kekasihku itu sedang bercanda. Dan candaan itu sangat menggelikan baginya. Tak pernah kulihat dia seria itu. Sungguh, kawan. Dia seperti anak kecil yang menemukan mainan baru. Dari matanya bisa kulihat itu. Sebentar kemudian tubuh telanjangnya bergetar hebat. Rambutnya yang bergelombang berkelebat. Dia melenguh lega. Dia ada di atas. Dan seseorang lain ada di tindihannya. Dia. Sedang. Bercinta. Dan bukan denganku. Tapi, dia terlihat ria. Dan itu yang membuatku terkatup bisu. Dia terlihat ria.
***

Seperti itulah, kawan. Itulah alasan mengapa aku tak bisa tidur malam ini. Masih bisa kulihat dengan jelas di pelupuk mataku, dan kusadari, betapa bergairahnya dia sore itu. Gambar itulah yang terputar terus menerus di tempurung kepalaku. Lenguhan itulah yang menabuh genderang telingaku selalu. Aku tak bisa tidak terjaga karenanya. Seperti ada berjuta balon yang ditusuk satu-satu pecah di samping kupingku. Aku tetap terjaga. Dan aku tak bisa tidur.

Ceritaku sampai di situ. Kau mau berbagi cerita? Aduh. Tapi, bisakah kau bercerita lain waktu? Bukannya mau curang, namun, sepertinya aku sudah mulai mengantuk. Mungkin aku lebih beruntung dari kau malam ini, kawan. Karena sepertinya aku hendak tertidur.

Oh, ya. Sebelum aku jatuh lelap. Biar kuakui bahwa aku tak bisa cemburu terlalu lama karena kekasihku terlihat bahagia. Pernahkah kau seperti itu? Membayangkan menonton kekasihmu bercinta dengan orang lain, dengan deru lenguh nafas yang membara, dengan nanar binar tatap matanya menyorot mata teman setubuhnya, dengan tawa geli, dengan peluh sebiji-jagung di sekujur kulitnya, yang semuanya itu tak pernah kau lihat dan rasakan – padahal sangat kau harapkan – saat kau yang bersenggama dengannya? Jangan kau bayangkan, kawan. Makin lama kau tak bisa tidur nanti.

Sudah dulu. Aku mengantuk kini. Kutinggalkan kau selagi terjaga. Dan jangan bangunkan aku. Tinggalkan saja kalau kau sudah bosan memelototi kecuranganku. Biarkan aku tidur. Kumohon. Yakinlah, kau akan mendapatkan gi..l..ir..anm..u…

Di tinjau-gubah-ulang di
Cepit, 11 Juli 2008
Pukul 0346 wib


5 Responses to “Aku Tak Bisa Tidur”

Leave a Reply