D’Masive dan Efek Masifnya
kau hancurkan aku dengan cintamu
tak sadarkah kau telah menyakitiku
lelah hati ini menantikanmu
cinta ini membunuhku
Begitulah sepenggal lirik lagu band yang pernah dijuluki teman saya sebagai “Band Tergalau Tahun 2008″. Cinta yang menghancurkan, cinta yang membunuh, waduh! Dayuan alur naik-turun, naik-gak-turun-turun, atau turun-gak-naik-naik dari musik ini memang gampang sekali membuai nalar pendengarnya. Tidak salah kalau musik ini masuk kategori musik gampang-dengar karena akornya gampang, melodinya gampang, ketukannya gampang, penyanyinya juga gampang(an). Pendengarnya?
Kalau mau berbicara dengan kritis perihal pengaruh lagu-lagu demikian pada peta mental pendengarnya, kita seyogianya menyingkirkan segala cengkraman sikap suka-taksuka. Saya yakin banyak sekali orang yang suka mendengarkan lagu-lagu yang diusung band atau penyanyi semacam D’Massive, Ungu, Afghan, KangenBand, dan sebagainya dan seterusnya. Lihat saja seperti apa warna dan isi lirik dari lagu-lagu mereka. Hampir semuanya tentang “cinta”, “pemakluman (bahkan anjuran) selingkuh”, “sakit hati”, “sembah sujud pada Sang Hyang Cintha”. Seperti inilah. Dan khalayak begitu dibombardir oleh kehadiran lagu-lagu tersebut. Mirip seperti propaganda Pidato Roosevelt tentang akan terjunnya AS ke Perang Pasifik setelah pemboman Pearl Harbor. Hampir setiap jam publik Amerika disapa dan dibayangi suara rekaman pidato tersebut melalui radio yang ada di kamar, di dapur, atau di ruang tamu mereka. Seperti itulah lagu-lagu yang diusung band semacam D’Massive dicekokkan ke pikiran kita. Lewat televisi, radio, mulut-ke-mulut, gitar-ke-gitar, pengamen-ke-pengamen, di warung burjo, di kamar mandi, di bus kota, di warnet, di kota dan di desa, di mana saja.
Para produser akan berani membanting dana tinggi untuk promosi. Mereka yakin propaganda lewat media massa sangat besar pengaruhnya pada angka penjualan, yang juga akan menyusul pada tingginya angka pesanan-manggung pada band tersebut, tingginya angka tawaran membintangi iklan, film, dll. Propaganda macam ini sudah klasik, namun kapasitas keberhasilannya seakan-akan tidak keropos dimakan rayap waktu. Hampir semua propaganda macam ini, baik yang politik, urusan bisnis, urusan minta restu buat perang, sampai urusan seni (sastra), berhasil dengan baik karena dilakukan dengan sistematis, siluman, dan penuh senyum yang memperlihatkan gigi-gigi putih berbaris rapi. Inilah kekuatan Humas sejati!!!
Mungkin banyak orang mengira anggapan bahwa lagu-lagu populer, yang cengeng yang membuai yang menjual utopia, dapat secara sadar atau tak sadar membentuk peta mental sebuah generasi adalah suatu pemikiran yang terlalu paranoid atau mengada-ada. Banyak orang merasa mereka masih memiliki sebuah lahan yang sangat pribadi, yang hanya dikuasai oleh mereka sendiri, dan tidak akan terpengaruh oleh hal-hal (populer) yang banyak beredar di sekitar lingkungan tempat ia hidup. Mungkin Anda akan berkata, “Saya suka lagu cengeng, bukan berarti saya cengeng.”
Katakanlah demikian benar adanya, dan jangan takut, Anda tidak sendirian. Ada bejibun orang lain yang merasa sama seperti Anda. Tapi mari kita coba lebih arif memandang masalah ini. Ketahuilah, saat seseorang benar-benar merasa dirinya punya lahan pribadi itu, lahan yang tidak tersentuh oleh pengaruh “dunia”, dan saat dia merasa mempunyai kuasa atas dirinya sendiri, dan dia akhirnya memutuskan untuk ikut berenang di arusutama, saat itulah puncak keberhasilan propaganda lewat Humas dan mediamassa diraih. Orang memang dibuat seakan-akan dia tidak dipaksa untuk memilih apa yang akan dia anut, dia suka, dia pakai, dia terapkan. Orang dibuat kosong. Dan cuciotak macam ini dilakukan hampir setiap menit lewat kotak televisi di ruang tengah rumah Anda, radio yang suaranya Anda dengar lewat headset saat bersepeda atau bersantai, tulisan-tulisan di majalah atau surat kabar ternama, lewat gambar-gambar raksasa yang tertempel di baliho (yang selalu memakai bahasa sok nginggris padahal bahasa Indonesianya sendiri saja belum fasih) yang lebih lebat dari pohon di sepanjang jalan yang sejuknya kini tinggal kenangan belaka. Saat itulah, Anda telah berbagi kue propaganda. Dan saat itulah mental Anda dibentuk.
Mungkin kebanyakan orang akan mengira keputusan Soekarno untuk membredel masuknya musik “ngak-ngik-ngok” barat ke Indonesia sebagai sebuah keputusan yang memberangus kebebasan berekspresi orang. Pada satu sisi memang benar. Dan orang yang membangkang akhirnya masuk bui, lihat saja nasib KoesPloes. Tapi saya melihatnya dari sisi yang lain. Pada saat itu, Indonesia yang usianya masih sangat muda ini, sedang mengalami masa peralihan. Dan ini sangat berpengaruh pada mental setiap warganegara. masa transisi adalah masa yang genting. Ia krusial. Dan pengendalian ketat lewat naluri yang awas memang dibutuhkan oleh seorang kepala negara. Saya melihat sikap Bung Karno yang melarang masuknya musik (budaya pop) barat ke Indonesia sebagai sebuah tindakan pencegahan. Sebuah bangsa yang baru merdeka harus disiapkan dengan matang sebelum bisa bersentuhan dengan bebas dengan dunia manca (dunia antara). Tiga setengah abad menganut mental budak bukanlah sesuatu yang tidak patut mendapatkan pertimbangan. Dan budaya asing yang masuk tanpa penyaringan (baca: pemblokiran awal) akan mengabadikan mental terjajah kita itu. Kalau tidak, buat apa Bung Karno lantang sekali berteriak mengusir IMF ke neraka dan menasionalisasi lahan industri milik Belanda di Indonesia? Itu semua memang dilakukan sebagai tahap awal melangkah bagi bangsa yang baru merdeka. Mental bangsa yang menjadi taruhannya. Bukan mau menjadi egois, tapi sangat lumrah ketika pada masa awal kemerdekaan, seorang pemimpin negara mengajak rakyatnya dengan sabar menyelesaikan tatanan dan konsep kenegaraan dan kebangsaannya sendiri terlebih dahulu, dan coba menjajal kemampuan bertahan hidup bangsa setelah lepas dari cengkraman penjajahan.
Kalau tak percaya dengan uraian saya, mari kita telaah kejadian pasca rezim Soekarno. Semua yang manca dibukakan pintu selebar-lebarnya untuk masuk ke Indonesia. KoesPloes pun berdendang lagi. Dan lagu yang sangat terkenal dari mereka adalah “bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup tuk menghidupimu, tiada topan tiada badai kau temui, ikan dan hutan menghampiri dirimu,” dan yang paling parah, “orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.”
Maka lihatlah seperti apa mental orang Indonesia setelah menggemari lagu itu… (saya kira Anda bisa mencaritahu sendiri).
Sekarang mari kita bertanya-tanya: apa sih lagu beraroma kebangsaan yang terbaru setelah diluncurkannya lagu “Bendera” yang dilantunkan Cokelat? Jujur saja, saya sudah “bosan” dengan lagu Maju Tak Gentar, Rayuan Pulau Kelapa, atau Perahu Retak. Namun kebosanan saya malah dibayar dengan lagu “Kekasih Gelap”, “TemanTapiMesra”, atau, gilanya, “Selingkuh itu Indah”.
Beberapa bulan lalu (mungkin tahun lalu), seorang Franky Sahilatua ingin meliris album terbarunya yang bernafaskan Pancasila. Ketika menawarkan musiknya ke produser, dia malah disuruh mengganti lirik lagu-lagunya menjadi lirik “cinta” karena, menurut produser itu, lagu tentang Pancasila tak akan laku. Cinta yang macam apa? Mungkin cinta menurut D’Massive, ya? Dan Franky menolak melakukannya, setelah menelan ludah getir kecewa. Dia merekam lagunya sendiri. Merilisnya sendiri dengan membagi-bagikan kurang-lebih seratus Compact Disc gratis kepada orang-orang. Kisah ini diliput oleh Kedaulatan Rakyat. Saya membacanya di surat kabar itu.
Silahkan lihat kejadian itu. Sekarang saya jadi agak bingung, sebenarnya produser yang menciptakan selera pasar (dengan sengaja), atau memang mereka hanya menggarap lagu-lagu yang “sesuai” dengan selera pasar? Tapi, belakangan saya mulai berani berkesimpulan, bahwa, melihat bombardir propaganda dengan kuda tunggangan berupa m”TV”edia, saya rasa telinga pendengarlah yang dengan sengaja dibentuk sesuka hati para pelaku industri musik. Saya tidak memukulrata, karena nyatanya banyak juga pelaku musik yang melakukan perlawanan lewat musik-musik diluar musik arusutama semacam D’Massive itu.
***
kumencintaimu lebih dari apapun
meskipun tiada satu orangpun yang tahu
kumencintaimu sedalam-dalam hatiku
meskipun engkau hanya kekasih gelapku
Lirik semacam inilah yang banyak kita dengar sekarang. Lirik bangsat (maaf!) semacam inilah yang membentuk orang-orang muda sekarang. Terseretlah, terseretlah, dan songsong hari-hari depanmu yang telah disediakan oleh kaum kapitalisme pasar. Jilat kaki mereka dan kau akan bertahan.
D’Massive, kau buat anak muda negeriku galau segalau-galaunya.
July 31st, 2009 at 7:25 pm
saya stju skali dgn anda,
Saya jg pmbenci dg lgu cinta indonesia yg cngeng,
Add fb sya ya parkerputra@yahoo.com
Trima kasih