Membaca Manusia Membaca Dunia
Suatu malam, dalam sebuah percakapan, seorang teman pernah mengutarakan hasil perenungannya tentang “membaca manusia” kepada saya. Dengan suara serak dan mata yang agak sayu, teman tadi berucap, “Cobalah untuk memahami seorang manusia secara menyeluruh, dan kau akan memahami dunia!”
Percakapan tersebut merupakan salah satu percakapan yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Bersama dengan teman tadi, saya pun mencoba untuk mendiskusikan lebih lanjut perihal “memahami manusia” dan “memahami dunia”. Apa sebenarnya yang ada di dalam “manusia” sehingga bahkan dunia pun dapat terbaca dari sana? Apa pula yang ada di dalam “dunia” yang mampu merasuk ke alam pikir-dan-tindak manusia? Bagaimana pula kedua hal tersebut dapat saling mempengaruhi?
Dan kami pun sepakat untuk tidak membahas masalah “akhirat” dalam pembicaraan tersebut.
***
Dalam keadaannya yang serba pasca (pascastruktural, pascamodern, pascakolonial, dan “pascasila”), dunia mutakhir telah menjadi arena persinggungan hal-hal yang seringkali saling “menipu”. Kerap kali kita merasa kesulitan untuk membaca motif orang melakukan sesuatu. Semakin banyak orang yang pintar menyamarkan motif aslinya demi tujuan tertentu. Buku yang dibaca, program televisi yang ditonton, gaya bahasa yang digunakan, bahkan sampai jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi, mungkin dulu dapat dengan gamblang kita gunakan sebagai alat membaca karakter manusia – dan dari sudut pandang itulah terbaca motif-motif pribadi atau kolektif yang muncul. Namun, sudut pandang itu menjadi salah kaprah jika digunakan untuk mencari “fakta”. Sebuah perspektif atau lebih hanya dapat dipakai untuk merumuskan sebuah penafsiran saja. Ya, hanya berhenti pada sebuah penafsiran. Mengapa? Karena adalah terlalu berani dan ceroboh namanya kalau mengklaim kebenaran sebuah fakta dengan mengandalkan bermacam-macam sudut pandang sekalipun. Apalagi, jika “hal” yang dibaca adalah manusia, sebuah subjek pembahasan yang teramat jauh dari atribut eksakta: subjek pembahasan yang, seperti kata Pramoedya, tak pernah habis dibahas sampai kemput.
Membaca manusia sama dengan membaca secara kualitatif, atau transformatif. Orang-orang menyebutnya “hermeneutika”. Membaca manusia dari satu bingkai kejadian saja adalah tidak adil. Membaca manusia hendaknya dilakukan dengan sabar, menelusuri benang merah dari bingkai-bingkai kejadian yang pernah terjadi, atau dilakukan, dan menarik bingkai tersebut ke sebuah ruang kosmik yang lebih besar – sebuah sistem kehidupan yang menentukan irama terpahatnya bingkai rupa karakter manusia sekarang.
Dulu kaum Traditional Theories, melalui konsep absolute idea, bisa berkata, “manusia membentuk bahasa.” Bolehlah diterima akal kalau kita melihat bagaimana cara kitab-suci menggambarkan Adam menamai tanaman dan binatang. Akan berbeda jika kita melihat keadaan sekarang: orang telah berkesimpulan bahwa “bahasalah yang membentuk manusia”, seperti konsep yang diutarakan oleh para tokoh pascastrukturalis (Lacan salah satunya), karena kita berangkat dari sebuah titik waktu relevan dan mutakhir, bukan dari titik alpha kehidupan yang entah itu. Dulu kita bisa berkata, “manusia (individu) membentuk masyarakatnya.” Bisa juga diterima akal. Namun, kita juga seharusnya sadar bahwa “masyarakat (juga) membentuk manusia.” Hollywood telah dipandang sebagai sebuah cultur(e)al center, tempat hegemoni konsep “budaya” berkedudukan. MTv telah menjadi titik tolak penampilan anak-nongkrong saat ini, dan membentuk generasinya sendiri. Bahkan berbagai hand-and-body lotion, pemutih kulit itu, telah berhasil mengubah konsep kulit wanita Jawa yang tadinya kuning-langsat menjadi putih-langsat (saya pun tak sanggup membayangkan seperti apa putih-langsat itu). Mengapa berhasil? Karena banyak yang percaya! Mengapa percaya? Karena mereka setiap hari dibombardir oleh propaganda!
Dalam hal ini, kita bisa mengerti bahwa perspektif yang digunakan manusia dalam memandang sesuatu dikonstruksi oleh pengetahuan-pengetahuan yang didapat manusia tersebut dari sebuah unit global bernama “dunia”. Zaman sekarang tidak hanya sekedar zaman edan, seperti yang pernah diramalkan Ronggo Warsito. Zaman sekarang adalah zaman tanda – zaman semiotika. Seiring dengan itu, pencarian akan pengetahuan disertai oleh perkembangan media sebagai wadah “menimba ilmu”. Dalam media (sumur ilmu) inilah bertaburan tanda-tanda dengan usungan motifnya masing-masing. Dan pembaca (penimba ilmu) harus pintar-pintar mengenali motif-motif tersebut. Kehadiran media, sekarang ini, menjadi satu hal yang indah sekaligus rancu. Kembali saya teringat tentang “motif”. Semua media adalah alat propaganda motif-motif. Saya ambil media massa sebagai satu contoh. Chomsky, dalam bukunya Media Control: The Spectacular Achievements of Propaganda (1997), dengan jelas menggambarkan bagaimana Pemerintah Amerika Serikat, pada masa PD I, melalui otak intelektual-membuat-mual John Dewey, mengubah massa anti perang menjadi massa haus-perang hanya dengan menunggangi media massa sebagai alat penyampaian propaganda. “Fakta-fakta” tentang “kekejaman” perang dimunculkan untuk memperkuat propaganda itu, untuk membuatnya seakan-akan logis dan empiris, meyakinkan massa bahwa keikutsertaan AS dalam PD I adalah sebuah tanggungjawab “kemanusiaan” untuk mengenyahkan si Jahat. Para intelektual dipakai jasanya untuk mengerahkan kemampuan rasionalisasi mereka agar menjadikan kampanye tersebut sahih di mata publik. “Fakta” dan “intelektualitas-kemanusiaan” tersebut dilemparkan ke masyarakat melalui media massa. Dan publik gagal membaca motif dasar propaganda tersebut, yaitu agar AS bisa masuk ke kancah PD I dengan misi perluasan kekuasaan ekonomi, karena dibungkus dengan moral-heroisme yang mempesona dan disuntikkan secara terus menerus.
Lalu, bagaimana menarik titik-belajar yang bisa didapat dari gejala di atas? Apakah manusia benar-benar sudah kehilangan kuasanya untuk menentukan pahatan karakter individualnya? Apakah manusia sudah kehilangan nilai tawar di hadapan sebuah supra-struktur yang begitu menghegemoni pembentukan individu-individu? Tentu jawabannya adalah sebuah “Tidak!”
Bagaimanapun juga, kemenangan harus berada di pihak ras manusia. Untuk dapat menjadi kritis dalam membangun karakter pribadi, manusia harus memiliki kemampuan membaca dan menalar yang kuat. “Dunia”, yang merasuki insan manusia dengan beribu-ragam sudut pandang, gejala, doktrin, idealisme, “fakta”, dan tafsir-fakta, tentunya akan salah sasaran jika tidak memiliki manusia sebagai tempat rasukannya. Di sinilah letak posisi tawar manusia terhadap supra-struktur bernama “dunia”. Tak bisa diingkari “manusia” dan “dunia” saling merasuki. Bahkan dalam dunia eksakta sekalipun, dalam kasus ilmu Fisika Modern, konsep rasuk-merasuki ini juga terjadi. Fritjof Capra, dalam bukunya The Uncommon Wisdom, mengutip bahwa fisikawan modern mengalami sebuah peristiwa metafisika ketika ia mendapatkan dirinya merasuk sekaligus dirasuki oleh objek (subjek?) penelitiannya itu. Maka dari itu, “manusia” memiliki porsi tawar yang sama-sama kuat dengan “dunia” karena keduanya saling menentukan makna dari keduanya.
Kemampuan analisis yang kritis akan dapat membuat manusia mengenali motif dari sebuah ilmu, atau pemikiran yang hadir dalam “dunia”. Memang benar bahwa karakter manusia itu dikonstruksi oleh gejala-gejala yang terbang simpang-siur dalam ruang kosmik tempat manusia itu tinggal, sama seperti perkataan teman saya, yang menjadi pembuka tulisan ini. Namun, pengertian “memahami secara menyeluruh” tidak diterapkan untuk membaca orang lain semata. Alangkah baiknya jika konsep membaca kritis itu diterapkan pada diri si pembaca itu sendiri, yang merupakan bagian dari bentuk “menyeluruh” tadi. Akhirnya, seseorang, ketika telah berhasil membaca motif-motif dalam dirinya, akan menjadi karakter manusia yang kritis secara lengkap. Dan membaca diri sendiri bukanlah hal mudah. Pada hemat saya, jawaban untuk semuanya menuju pada satu titik pemikiran yang ternyata sangat manusiawi: keterbukaan dan kejujuran. Orang harus terbuka pada interpretasi. Lalu, orang harus jujur dalam mengkritik dirinya sendiri. Orang harus punya sikap dalam menolak atau menerima sebuah pemikiran tertentu, begitu juga dalam menghargai perbedaan pola-pikir dan idealisme. “Dunia” akan menjadi pembentuk mutlak karakter ketika “manusia” enggan membaca tanda-tanda. Lalu, marilah kita sama-sama membayangkan seluruh Indonesia berhasil dengan kritis membaca dirinya dan motif-motif yang melatarbelakangi setiap tindak-tanduknya itu.
Klaten, 1 Juni 2008
Wahyu Adi Putra Ginting
July 6th, 2009 at 11:59 pm
I have been looking looking around for this kind of information. Will you post some more in future? I’ll be grateful if you will.
April 17th, 2010 at 4:57 pm
I wrote about that in my blog about Illnesses of the lymphatic system
April 19th, 2010 at 11:00 pm
Hi, colleague! I love your blog, it’s so friendly! I think it’s pretty popular, isn’t it? I would like to invite you to my favorite Pay-Per-Click system, I believe you can earn with your blog a lot here. My crazy russian friend earn $3.000 per day here! Look, it doesn’t obligate you to anything http://klikvip.com/landings/en/landing2/index.php?aff=35357
June 17th, 2010 at 6:49 am
I have to state, you chose your words well. The ideas you wrote on your encounters are well placed. This is an incredible blog!
June 17th, 2010 at 9:35 am
Great blog post.Really looking forward to read more.
July 10th, 2010 at 1:20 am
I found your blog on google.I would like to offer my site: Acai Berry Reviews
July 22nd, 2010 at 7:15 am
I cant believe the multitude of wonderful info you have on your blog. I have learned a lot from it. Will be coming back soon.
July 23rd, 2010 at 2:35 am
Hi there! I’m in a hurry today.I found your website while looking for articles to help me compose one of my reports, and found your article to be very interesting. I like it’s originality. I’ve bookmarked your blog, and will come back in the weekend to see more.