Obamakadabra!
Bagaimanapun, bagi negara yang kepalang dirasuki ruh digdaya Amerika Serikat (AS), sulit menyangkal bahwa AS adalah negara adidaya-adidibya, yang rekam-jejak pengaruhnya bercipratan dimana-mana. Pengaruh AS sudah menulang-sumsum di banyak tempat, sehingga peristiwa yang terjadi di sana, baik yang politik, ekonomi, keamanan, dan budaya, dapat menyulap diri (dengan masuk akal) menjadi seonggok cempedak yang getahnya meluber ke seluruh ‘dunia’.
Men’dunia’kan Diri
Men’dunia’kan diri adalah ciri-khas AS yang paling menonjol. Gejala ini terlihat dari pencitraan lewat frasa-frasa berbau superlatif, yang menjadi mantera-aji bagi AS agar dapat menciutkan dunia dan menyeragamkan pemaknaan atas pencitraan dirinya. AS sering ditokohkan sebagai the world’s most powerful country dan menyebut musuhnya the world’s most dangerous regime. Tidak asing lagi di telinga ketika mendengar ambisi AS menjadi ‘polisi dunia’. AS punya hak veto di PBB, yang membuat ‘dunia’ tak berkutik menghentikan serangkaian agresi yang dilakukan negara yang didukungnya.
Ideologi usungannya pun turut di’dunia’kan, meskipun harus lewat gempuran dan tumbal nyawa manusia. AS menjadi guru demokrasi ‘dunia’. AS adalah patokan. Banyak negara harus belajar pada tegaknya demokrasi di tanah impian itu. Untuk itu, tak usah kita takjub: betapa terpilih dan dilantiknya Barack Hussein Obama sebagai Presiden AS dihikayatkan sebagai sebuah kisah kanonikal yang universal, tak-peka-waktu, dan ‘untuk kesejahteraan seluruh umat manusia’.
Sihir Mediamassa
Kuatnya pencitraan AS bukan sebuah pencapaian tanpa olahnalar yang terperinci dan terencana. Sejak era PD I, kaum intelektual tangan kanan penguasa AS sudah menemukan ramuan yang mampu meraup dukungan kolosal: mediamassa! Noam Chomsky, dalam Media Control: The Spectacular Achievement of Propaganda (1997), memaparkan bagaimana pemerintah AS, dalam usahanya ikut-serta di PD I, lewat propaganda di mediamassa, berjaya membelokkan warga AS, yang anti-perang, menjadi segerombolan massa haus-perang. Proses ini menjadi kisah sukses yang terus diterapkan sebagai tata-cara politik pencitraan sampai sekarang.
Di Indonesia, sihir mediamassa ini terendus kental baunya saat Pilpres AS lalu. Berita tentang AS memang hampir tak pernah absen di ruang berita mancanegara. AS ibarat garam yang, kalau tak ada, membuat kabar dari mancanegara terasa hambar. Narasi pemberitaan Pilpres AS yang dibuat oleh para pewarta mediamassa cetak maupun elektronik secara gamblang membentuk dan menguatkan politik pencitraan AS, paling tidak dalam konteks kehidupan demokrasinya. Ini juga berujung pada karakterisasi Obama sebagai tugu perwujudan demokrasi AS dan harapan bagi, lagi-lagi, ‘dunia’.
Sihir Obama
Menurut P. Ari Subagyo, ‘obamalek’ dan ‘obamateks’ adalah dua unsur penting yang “menyumbang bagi kemenangan Obama”. Obama adalah seorang pewicara handal: ada orang yang terpesona oleh caranya berbicara meski tak suka pandangan politiknya. Obama, dengan dialek, idiolek, dan idiosinkrasi yang dimilikinya, tampil dengan penguasaan emosi-diri penuh, sehingga tampak tenang bersahaja. Sebagai sebuah teks, ia adalah simbol kesetaraan yang sudah lama disepakati namun sering terbentur ‘langit-langit kaca’ yang menyekat ruang hidup masyarakat kulit-putih dan kulit-berwarna (Kompas, 24/01/09). Obama mendayagunakan bahasa sebagai alat pengukuh eksistensi dan alat mempengaruhi nalar orang lain secara rinci.
Namun, karakterisasi Obama tak hanya terletak pada kualitas moral, mental, dan kecendikiaan saja. Mediamassa ikut memompa kesohorannya. Tak sulit menemukan kisah unik (aneh?) tentang penduduk daerah bernama Obama (Jepang) yang merayakan terpilihnya Obama sebagai presiden AS; atau penduduk Kenya yang berpawai-pesta, mengingat ayahnya seorang pria Kenya; atau berita dikumandangkannya Indonesia Raya di Hotel The Ritz Carlton, Jakarta, oleh para tamu saat merayakan pesta pelantikan Obama, mengingat ia pernah tinggal di Menteng dan dengan bahasa Indonesia yang fasih pernah bilang ke SBY, “Saya kangen nasi goreng, bakso dan rambutan.” Semua cerita ini tak akan ada tanpa sihir mediamassa. Dan Mang Usil (Kompas, 22/01/09) sudah mengomentarinya dengan cerdas: “Politik itu panggung, panggung itu bisnis!”
Fakta hidup Obama bahkan dijadikan lambang kekayaan perspektif dan penerimaan ‘dunia’ atas dirinya: berkulit-hitam (diterima di Afrika), pernah tinggal di Indonesia (diterima di Asia), bernama tengah ‘Hussein’ (diterima di Timur Tengah). Padahal, kalau mau berpikir sedikit cerdas dan masuk akal, ketiga fakta itu sama sekali tak ada hubungannya dengan ‘kekayaan perspektif’ atau ‘penerimaan dunia’. Kembali terlihat ciri khas politik pencitraan (pembodohan?) yang biasa diterapkan: narasi yang cenderung memetonimikan unit-makna kecil ke unit-makna besar (contohnya: narasi semakin banyaknya mobil mewah di Jakarta bermakna tingkat kemiskinan menurun; narasi bahwa tempat liburan di Jakarta tetap penuh pada hari libur bermakna daya beli masyarakat Indonesia stabil).
***
Narasi, lewat pemberitaan berulang, dapat menjadi ‘fakta’. Mediamassa adalah sumur informasi yang bukan tanpa ideologi. Teknik narasi penyampaian berita sering sarat pencitraan. Kemampuan kritis membaca gejala narasi metonimis pencitraan AS dan Obama, juga pencitraan para peserta Pemilu dan Pilpres Indonesia, akan membuat kita mampu menyatakan sikap atas gejala. Sekaligus menamengi diri dari sihir a la ‘obamakadabra’! Selamat membaca gejala.
March 21st, 2010 at 9:02 am
Helo
awesome post - i’m creating video about it and i will post it to youtube !
if you wana to help or just need a link send me email !