BAHASA INDONESIA, PENUTURNYA, DAN SUMPAH PEMUDA 1928
Karuan timbul rasa masygul, jangan-jangan ikrar pemuda pada 1928 sekarang ini melaju ke prayojana baru: satu nusa satu bangsa dua languages. (Remy Sylado)
Perkenankan saya kutip sepenggal kalimat yang maktub dalam Tajuk Rencana KOMPAS, terbitan Sabtu, 25 Oktober 2008, yang berjudul Martabat Bahasa Indonesia: “[j]angan-jangan yang bisa kita banggakan tinggal ‘berbahasa yang satu, bahasa Indonesia’; dua lainnya terpuruk.” Kalimat yang tertuang dalam paragraf kedua dari Tajuk Rencana tersebut berkaitan dengan peri keprihatinan kita (KOMPAS?) terhadap terpuruknya dua butir pertama Sumpah Pemuda 1928, dan (seakan-akan) dengan legawa menyatakan bahwa, setidaknya, butir terakhir, yaitu butir tentang bahasa persatuan, masih tersisa untuk “dibanggakan”. Continue reading