Jan
22
2009
Aku tak bisa tidur. Begitulah. Tak bisa. Dan hanya begitu saja.
Tidak! Tidak seperti itu. Tak pernah seperti itu. Malam-malam sebelumnya aku tidur tepat waktu dan terpekur nyenyak sekali. Tapi, kenapa malam ini? Sesuatu. Sesuatu pasti terjadi sebagai sesuatu yang punya alasan. Melantur kalau sesuatu terjadi begitu saja. Aku tak pernah percaya. Semuanya. Semua! Ada barisan alasan yang sembunyi di balik tabir panggung tempat sesuatu dilakonkan. Mereka sembunyi bukan untuk sembunyi. Mereka sembunyi untuk mengejek kesadaran orang, untuk ditemukan. Dan tak secuilpun sabar mereka rompal oleh kala. Mereka tetap menunggu, sampai suatu nalar menghampiri dan berteriak, “Ci-luk-ba! Kau kutemukan. Kau kena. Sekarang gantian, kau yang jaga.”
Continue reading
5 comments | posted in Cerita Pendek
Jan
22
2009
Sarmin, bocah berambut ikal, berkopiah abu-abu kusam, bersandal telapak dan jari-jari kaki, berjidat nonong, bermata juling, berbibir sumbing, dan berkulit keling itu memasuki stasiun Tugu Jogja ketika senja baru menyapa kota, mengelir jingga di setiap sudut basah yang baru diludahi langit tadi siang, ketika pelukis baka kelabakan menggambar pelangi dengan seadanya, ketika angin dari Wedi Ombo tersesat setelah nekad menuju ibukota, ketika delman pak-kusir-yang-sedang-bekerja menabrak seorang gelandangan sehingga terlempar ke atas bilah-bilah rel, dan disambut dengan tak sengaja tak dinyana oleh loko tua yang sedang langsir. Sarmin masuk tanpa peduli dengan gerombolan berdesak-desakan yang ingin menonton daging-daging pecah tadi. Sarmin datang ke stasiun untuk melihat kekasih kesayangannya, loko tua berkulit warna muda dengan nama Senja Utama Yogya. Sarmin, tidak seperti biasanya, masuk lewat gerbang peron. Pak penjaga dan ibu penjual karcis peron yang berharga seribu limaratus perak itu sedang tergopoh-gopoh ikut bergabung ingin menyaksikan keramaian di depan gerbang stasiun. Kotak karcis itu ditinggalkan begitu saja, dan gerbang peron terbuka untuk siapapun, bahkan bagi Sarmin. Sarmin melangkah masuk. Perlahan. Dengan lidah menjulur dan liur menetes, Sarmin berjalan ke Jalur 5 untuk menyapa kekasihnya. Loko tua berkulit warna muda bernama Senja Utama Yogya.
***
Continue reading
no comments | posted in Cerita Pendek
Jan
22
2009
Sembari mencecap tembakau di bibir monyongnya, nenek nanar menatapku yang menangis tersedu karena mimpi buruk saat tidur siang tadi. Derit kursi goyang yang sudah setengah mati menahan berat badan nenek selama delapan belas tahun ini adalah satu-satunya bunyi yang bersorak di ruang tamu sempit berdebu di rumah tua besar peninggalan kakek ini. Meskipun tua, rumah ini selalu memanjakan penghuninya dengan hawa sejuk yang selalu memenangkan pertempuran dengan panas, walaupun matahari sedang terik-teriknya. Tidak ada suatu pirantipun di rumah ini yang terhubung dengan listrik. Sengaja dari dulu kakek menolak perluasan wilayah cakup listrik dari PLN di kampung kami menyentuh rumahnya. Orang-orang mencibir kakek pada saat itu. Mereka bilang kakek aneh karena menolak fasilitas berteknologi mutakhir yang menjadi hak dari setiap penduduk. Dengan tenang kakek hanya menanggapi, “Lihatlah nanti. Sebentar lagi listrik-listrik itu akan menjajah kalian! Aku tak mau hidupku bergantung pada sesuatu yang tidak berasal dari tanah moyangku ini.”
Nenek masih mengunyah tembakaunya. Doyan dia melihatku sesugukan tersedu karena ketakutan. Aku selalu ngeri melihat isi mulut nenek. Apalagi saat dia habis mengunyah sirih lalu mengepel sisa-sisa sirih itu dengan tembakau yang dipuntir-puntir diselipkan diantara dua belah bibirnya yang tebal.
***
Continue reading
1 comment | posted in Cerita Pendek