Jan 22 2009

Lidah Memelintir

Di tepi dan ujung lidahku ada prayojana
bahwa lidahmu yang hendak memelintir lidahku itu
harus dulu disangkal dan disita
bukan hanya karena ingin muradif
tapi inilah harga
dari pelintiran lidah-lidah kita

Di tepi dan ujung lidahku ada kama
bukan untuk sekedar memintamu
memperkaya kosakata
tapi juga untuk mengertimu,
menyaringmu, mencari padananmu,
dan, kalau tak ada jalan lain,
mematikan lafal dan ejamu,
baru kuseruput liur itu

Di tepi dan ujung lidahku ada rasa mahardikka
bahwa ya lidah kita sama-sama liar
sama-sama binal

namun turutlah lidahmu pada lidahku
karena di rongga mulutku kita berada

Yogyakarta, 30 Desember 2008


Jan 22 2009

Makna Kematian: Ditinjau dari Sudut Pandang Linguistik

Fonetik
Kematian adalah tangis putus asa lidahmu yang setengah mampus membunyikan suara /th/ pada kata “though” – dan kaupun merengek-rengek terus ingin bisa. “Biar bicaraku sounds English,” katamu.

Fonologi
Kematian adalah aturan-aturan baku fonologis yang kau hapal-sembahkan di luar kepalamu – tanpa kau sadari bahwa aturan itu hanyalah secuil paparan dari apa yang kau lafalkan sehari-hari. “Ganti bunyi frikatif alfeolar tak-getar /s/ dengan bunyi sengau alfeolar getar /n/ pada komposisi bunyi /sya-ir/ ketika awalan pe- dilekatkan pada kata tersebut,” cerewetmu berulang-ulang.

Continue reading


Jan 22 2009

Melek Wicara

Tibalah pada titik ini. Ketika tiga botol bir, dan tiga lagi botol air mineral, dan tiga lagi bungkus tembakau lintingan pabrik, dan tiga lagi bungkus kudapan kering, habis tertelan.

Berbicara tentang bahasa.
Berbicara tentang filsafat.
Berbicara tentang sastra.
Berbicara tentang politik.
Berbicara tentang hidup.
Berbicara tentang mati.

Dan jangkrik, dan kelelawar, dan kebul asap pesawat kendaraan beroda, dan puntung jari pengemis terkena lepra, dan internet, dan satelit, dan listrik, dan telik, dan bintang kecil di langit yang kelam, dan amal agar besar upahmu di sorga, dan komik, dan pustaka, dan kamus, dan kopi rebus, dan minyak tanah, dan gabah, dan buah, dan bioskop, dan cipratan ludah saat bersemangat saling berbantah.

Mengapa begitu jauh terasa, wahai yang dekat sebenarnya?

Mampus membayangkan tatanan kabur yang mabur seperti kunang-kunang buatan mata tertutup kelopaknya.

Engkaulah fonetik, yang memaparkan seperti apa manusia menghasil suara – bertemanlah kau dengan dokter gigi.

Engkaulah fonologi, yang sibuk menarik aturan suara apa boleh lekat dengan suara apa.

Engkaulah morfologi, yang syahdu mengumandangkan pembentukan kata.

Engkaulah sintaksis, yang garang menetakkan urutan kata sesuai pangkat dalam kalimat.

Engkaulah semantik, yang gelisah menghubungkan kata dengan makna – yang baku pula.

Engkaulah pragmatik, yang girang menerangkan kenal-ruang-waktu dengan arti wicara.

Engkaulah stilistika, yang mempergunjingkan gaya.

Makna. Makna. Makna. Makna. Makna. Makna. Makna. Makna. Makna. Makna.
Gaya. Gaya. Gaya. Gaya. Gaya. Gaya. Gaya. Gaya. Gaya. Gaya. Gaya. Gaya.

Ayolah, Bahasa. Ayo!

Jangan pernah berhenti jadi liar. Kasihanilah nalar yang kau gendong di pundakmu itu. Kosakata-kosakata, mencipta-mencipta.

Dari sadar ini, biarlah aku terus berbicara.

Yogyakarta, 09 September 2008