Tibalah pada titik ini. Ketika tiga botol bir, dan tiga lagi botol air mineral, dan tiga lagi bungkus tembakau lintingan pabrik, dan tiga lagi bungkus kudapan kering, habis tertelan.
Berbicara tentang bahasa.
Berbicara tentang filsafat.
Berbicara tentang sastra.
Berbicara tentang politik.
Berbicara tentang hidup.
Berbicara tentang mati.
Dan jangkrik, dan kelelawar, dan kebul asap pesawat kendaraan beroda, dan puntung jari pengemis terkena lepra, dan internet, dan satelit, dan listrik, dan telik, dan bintang kecil di langit yang kelam, dan amal agar besar upahmu di sorga, dan komik, dan pustaka, dan kamus, dan kopi rebus, dan minyak tanah, dan gabah, dan buah, dan bioskop, dan cipratan ludah saat bersemangat saling berbantah.
Mengapa begitu jauh terasa, wahai yang dekat sebenarnya?
Mampus membayangkan tatanan kabur yang mabur seperti kunang-kunang buatan mata tertutup kelopaknya.
Engkaulah fonetik, yang memaparkan seperti apa manusia menghasil suara – bertemanlah kau dengan dokter gigi.
Engkaulah fonologi, yang sibuk menarik aturan suara apa boleh lekat dengan suara apa.
Engkaulah morfologi, yang syahdu mengumandangkan pembentukan kata.
Engkaulah sintaksis, yang garang menetakkan urutan kata sesuai pangkat dalam kalimat.
Engkaulah semantik, yang gelisah menghubungkan kata dengan makna – yang baku pula.
Engkaulah pragmatik, yang girang menerangkan kenal-ruang-waktu dengan arti wicara.
Engkaulah stilistika, yang mempergunjingkan gaya.
Makna. Makna. Makna. Makna. Makna. Makna. Makna. Makna. Makna. Makna.
Gaya. Gaya. Gaya. Gaya. Gaya. Gaya. Gaya. Gaya. Gaya. Gaya. Gaya. Gaya.
Ayolah, Bahasa. Ayo!
Jangan pernah berhenti jadi liar. Kasihanilah nalar yang kau gendong di pundakmu itu. Kosakata-kosakata, mencipta-mencipta.
Dari sadar ini, biarlah aku terus berbicara.
Yogyakarta, 09 September 2008