Jul 9 2010

The History of English: a Diminutive Explanation

Prologue

This writing consists of three ‘stories’ of English, all of which are narrated from the historical point of view. Each of the stories, in an orderly turn, will present very briefly ‘word order in English’, ‘the emergence of stress as a phoneme in English’, and ‘the inconsistency of the English spelling system’. I really hope that this writing can serve as a very short introduction to the understanding of English, as a language, seen from its experiencing the linguistic time-and-space continuum. Though presented separately, it does not mean that each story stands alone in its owned fixed point. They three are correlated one to another. Some elements of one story may show significant effect to the development of its counterpart.

Have a good read. Continue reading


Jul 6 2010

Membentuk dan Dibentuk Bahasa*

Bayangkan muncul suatu masa ketika penguasa memutuskan untuk melarang Anda menggunakan daya-cipta kata-dan-makna yang Anda punya. Bayangkan dunia tanpa kiasan, tanpa metafora. Semua kata maknanya harfiah. Semua kata maknanya leksikal. Dan satu-satunya sumber makna adalah kamus. Dan kamus yang dimaksud itu adalah kamus yang direkayasa penguasa, lewat para insinyur bahasa yang mereka punya. Di masa itu, semua koran, televisi, radio, dan bahkan mungkin internet diatur tata-cara berbahasanya sedemikian rupa, sehingga yang hadir ke hadapan pembaca, penonton, dan pendengar adalah cerita-berita tuna-kiasan, seolah-olah semua kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana semuanya punya petanda konkrit di dunia realita; seolah-olah segala cerita-berita bermakna objektif, dingin, dan tuna-emosi atau tanpa kecondongan subjektif. Maka, kalimat semacam Pejabat itu adalah anjing penguasa dianggap tidak benar secara nalar. Karena dalam arti yang telah tercetak di kamus, yang dimaksud dengan kata-benda pejabat haruslah ‘manusia’, dan yang dimaksud dengan kata-benda anjing adalah ‘binatang berkaki empat, menyalak, punya daya endus luarbiasa, dst., dsb.’ Anda juga tidak bisa mengatakan Penguasa mengebiri kemerdekaan lidah kami karena kata-kerja mengebiri hanyalah diacu sebagai ‘kegiatan memotong kulup kelamin’ dan kata-benda lidah hanya diberi makna ‘bagian tubuh dalam mulut yang dapat bergerak-gerak, gunanya untuk menjilat dan mengecap’. Continue reading


Aug 8 2009

BAHASA INDONESIA, PENUTURNYA, DAN SUMPAH PEMUDA 1928

Karuan timbul rasa masygul, jangan-jangan ikrar pemuda pada 1928 sekarang ini melaju ke prayojana baru: satu nusa satu bangsa dua languages. (Remy Sylado)

Perkenankan saya kutip sepenggal kalimat yang maktub dalam Tajuk Rencana KOMPAS, terbitan Sabtu, 25 Oktober 2008, yang berjudul Martabat Bahasa Indonesia: “[j]angan-jangan yang bisa kita banggakan tinggal ‘berbahasa yang satu, bahasa Indonesia’; dua lainnya terpuruk.” Kalimat yang tertuang dalam paragraf kedua dari Tajuk Rencana tersebut berkaitan dengan peri keprihatinan kita (KOMPAS?) terhadap terpuruknya dua butir pertama Sumpah Pemuda 1928, dan (seakan-akan) dengan legawa menyatakan bahwa, setidaknya, butir terakhir, yaitu butir tentang bahasa persatuan, masih tersisa untuk “dibanggakan”. Continue reading