Aug
8
2009
Karuan timbul rasa masygul, jangan-jangan ikrar pemuda pada 1928 sekarang ini melaju ke prayojana baru: satu nusa satu bangsa dua languages. (Remy Sylado)
Perkenankan saya kutip sepenggal kalimat yang maktub dalam Tajuk Rencana KOMPAS, terbitan Sabtu, 25 Oktober 2008, yang berjudul Martabat Bahasa Indonesia: “[j]angan-jangan yang bisa kita banggakan tinggal ‘berbahasa yang satu, bahasa Indonesia’; dua lainnya terpuruk.” Kalimat yang tertuang dalam paragraf kedua dari Tajuk Rencana tersebut berkaitan dengan peri keprihatinan kita (KOMPAS?) terhadap terpuruknya dua butir pertama Sumpah Pemuda 1928, dan (seakan-akan) dengan legawa menyatakan bahwa, setidaknya, butir terakhir, yaitu butir tentang bahasa persatuan, masih tersisa untuk “dibanggakan”. Continue reading
no comments | posted in Karya Bahasa, Ulasan Buku
Aug
8
2009
Bagaimanapun, bagi negara yang kepalang dirasuki ruh digdaya Amerika Serikat (AS), sulit menyangkal bahwa AS adalah negara adidaya-adidibya, yang rekam-jejak pengaruhnya bercipratan dimana-mana. Pengaruh AS sudah menulang-sumsum di banyak tempat, sehingga peristiwa yang terjadi di sana, baik yang politik, ekonomi, keamanan, dan budaya, dapat menyulap diri (dengan masuk akal) menjadi seonggok cempedak yang getahnya meluber ke seluruh ‘dunia’. Continue reading
no comments | posted in Catatan
Jan
22
2009
Sinopsis
Bunga rampai cerita pendek ini disekat menjadi tiga ruang cerita: (1) Penembak Misterius: Trilogi; (2) Cerita untuk Alina; (3) Bayi Siapa Menangis di Semak-Semak?. Ada lima belas cerita maktub dalamnya. Semuanya adalah karya Seno yang ditulis antara tahun 1985 sampai 1990, dan mulanya diterbitkan lewat ruang-ruang di suratkabar dan majalah. Di bagian akhir buku, terselip sebuah pembacaan kritis atas apa yang disebut sebagai trilogi Seno tentang ‘petrus’: Keroncong Pembunuhan, Bunyi Hujan di atas Genting, dan Grhhh. Tulisan itu karya Budiawan, dosen Kajian Ilmu Religi dan Budaya, Program Pasca Sarjana, Universitas Sanata Dharma.
Ulasan
Seno, Sastra, dan Jurnalisme
Seno pernah membuat pernyataan, yang semoga saja kian hari tidak menjadi sumbang, ‘[k]etika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.’ Dan Seno memang tidak mengumbar nada sumbang ketika melafalkan pernyataannya itu. Seno, seorang jurnalis, betul-betul memberdayakan sastra untuk membuncahkan sesuatu yang tidak lagi dapat dikoarkan lewat mulut jurnalisme. Budiawan, dalam analisis ringkasnya terhadap trilogi ‘petrus’, mengungkapkan, ‘…ketika dunia-dunia perbincangan lainnya sudah (hampir) sepenuhnya berada dalam kontrol kekuasaan yang dominan, sastra – dalam batas-batas tertentu – mampu keluar dari jangkauan kontrol itu.’ Setidaknya sampai sekarang, dalam batas dan kasus tertentu pula, seperti itulah yang sahih terjadi.
Continue reading
no comments | posted in Ulasan Buku